Pendidikan

Mengenal Suku Korowai Papua yang Tinggal di Rumah Pohon Setinggi 15 Meter

suku pedalaman korowai papua

“Korowai, sebuah suku misterius yang hidup di rumah pohon yang menjulang tinggi di atas hamparan hutan tropis. Beberapa dari mereka masih mempraktikkan sesuatu yang menurut kita tabu, kanibalisme.”

Kalimat di atas diucapkan oleh pembawa acara Mark Harmon dalam acara Smithsonian Expedition Special: The Treehouse People, Cannibal Justice. Acara yang tayang pada tahun 1994 ini membahas mengenai suku Korowai. Berkat acara tersebut, semakin banyak yang mengetahui eksistensi suku Korowai dan rumah pohonnya yang unik. Media mulai berdatangan untuk meliput suku di Papua tersebut.

Namun, sebelum media, suku ini sudah memulai kontak dengan dunia luar sejak tahun 1978. Pada saat itu, tim misionaris Belanda yang dipimpin oleh Johannes Veldhuizen mendatangi suku Korowai dan melakukan penginjilan. Tidak hanya itu, Veldhuizen juga mengajarkan cara penyembuhan dan metode kesehatan yang diprogramkan pemerintah. Tahun 1980, gereja juga membangun sekolah serta klinik rawat jalan.

Dunia telah lama mengenal suku Korowai dan rumah pohonnya. Tapi sudahkah Sahabat mengenalnya?

Di bawah ini, kami akan membahas lebih banyak tentang salah satu suku di Papua ini. Sahabat akan mengetahui tentang rumah pohon Korowai dan kanibalisme yang dirumorkan terjadi di suku ini.

Klufo Fyumanop

Meski di luar lebih banyak dikenal dengan nama Korowai, nama asli suku ini adalah Klufo Fyumanop. Menurut buku berjudul “Potret Manusia Pohon” yang ditulis oleh Antropolog Universitas Cenderawasih, Hanro Yonathan Lekitoo, nama Korowai adalah sebutan yang berasal dari orang Belanda. 

Orang Korowai sendiri lebih suka menyebut diri mereka Klufo Fyumanop yang apabila diterjemahkan artinya adalah orang yang biasa berjalan kaki. Nama ini digunakan untuk membedakan diri mereka dengan suku Citak Mitak yang menggunakan perahu sebagai tranportasi utama. Menurut Hanro, bahkan dalam perang pun mereka hanya berjalan kaki.

Orang luar membagi suku Korowai menjadi dua yaitu Korowai Besi dan Korowai Batu. Korowai Besi adalah mereka yang sudah tersentuh peradaban modern, sementara Korowai Batu masih hidup seperti di zaman batu.

suku korowai
(Potret suku Korowai. Foto: U-Report)

Hak Ulayat

Suku Korowai merupakan suku yang sangat menghargai hak ulayat atau batas-batas wilayah adat. Suku ini hidup di dalam dusun-dusun yang dibagi berdasarkan marga mereka. Seluruh kegiatan berburu dan meramu dilakukan di dalam batas wilayahnya masing-masing. Batas wilayah ini diketahui oleh setiap penjaga marga.

Bahkan saat mereka berburu dan hewan buruan mereka masuk ke wilayah marga lain, mereka akan meminta izin dahulu sebelum mengambil hewan buruan tersebut. Apabila permintaan izin dan permohonan maaf tidak disampaikan kepada pemilik hak ulayat, maka berpotensi menimbulkan konflik.

Suku Korowai juga merupakan suku yang nomaden, mereka seringkali berpindah-pindah tempat tinggal. Akan tetapi, mereka tidak sembarangan berpindah tempat. Mereka tetap hanya akan pindah di dalam lingkup wilayah adat mereka.

Rumah Pohon

Benarkah kabar yang beredar dari media bahwa suku Korowai hidup di dalam rumah pohon yang dibangun begitu tinggi di atas pohon?

Jawabannya benar dan tidak benar.

Suku ini memang memiliki rumah pohon yang dibangun di ketinggian 15 hingga 35 meter di atas pohon. Namun, rumah yang dalam bahasa Korowai disebut lu-op ini tidak digunakan sebagai tempat tinggal. Pemuda Korowai biasa mendirikan lu-op untuk menikmati pemandangan, atau menyuarakan pekikan atau suara keras dari atas pohon. Rumah jenis ini hanya berfungsi untuk memamerkan kekuatan dan kebesaran kepada kelompok lain.

(Lu-op, yang dibangun pada ketinggian 15-35 meter. Foto: George Steinmetz)

Sementara itu, rumah yang benar-benar dihuni oleh suku Korowai adalah rumah yang dibangun pada ketinggian 3 hingga 9 meter dari permukaan tanah. Memang bisa dibilang cukup tinggi, tapi tidak seperti pemberitaan berlebihan tentang mereka.

Rumah jenis ini diberi nama xaim. Xaim dibuat di atas tonggak-tonggak dari pohon kecil yang dijadikan pancang. Rata-rata, rumah jenis ini dibuat seluas 15 meter.

Ada satu lagi jenis rumah yang biasa dimiliki oleh orang-orang suku Korowai yaitu xau. Rumah ini dibuat dengan tinggi 1 meter dari permukaan tanah dan tidak memiliki panggung sama sekali. Jarang sekali ada xau yang didokumentasikan, jadi kami tidak bisa menunjukkan gambarnya pada Sahabat.

Kanibal

Di awal artikel, pembawa acara sempat menyebutkan bahwa suku ini kanibal. Bahkan, judul tayangan Smithsonian tersebut memuat kata kanibal di dalamnya. Lantas, bagaimana kebenarannya?

Nyatanya, suku Korowai tidak memakan daging manusia dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja, memang suku Korowai memiliki sebuah ritual untuk memakan daging manusia yang melanggar peraturan di dalam suku mereka. Dengan kata lain, kanibalisme termasuk dalam cara penegakan hukum adat mereka. Contoh perbuatan yang melanggar peraturan mereka adalah menggunakan sihir atau khua-khua.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kanibalisme ini sudah jarang terjadi dan perlahan ditinggalkan. Terutama setelah masuknya misionaris yang kemudian melakukan penginjilan pada mereka.

Bagaimana? Apakah tulisan di atas sudah mampu menjawab rasa penasaran Sahabat tentang suku Korowai?

Masih banyak fakta-fakta dan pengetahuan menarik yang perlu Sahabat ketahui mengenai saudara-saudara kita di pedalaman. Semuanya akan kami hadirkan di sini. Jangan sampai terlewatkan, ya!

Referensi:

https://www.viva.co.id/gaya-hidup/inspirasi-unik/1492368-fakta-suku-korowai-pemilik-rumah-pohon-puluhan-meter-di-papua
https://rimbakita.com/suku-korowai/
https://regional.kompas.com/read/2022/04/19/145248678/mengenal-suku-korowai-di-papua-selatan-hidup-di-pohon-menjunjung-tinggi-hak?page=all
https://papua.inews.id/berita/suku-korowai-di-papua