Kisah Pedalaman

Kendala Membangun Jembatan Akses ke Sekolah di Pedalaman Sumatera

membangun jembatan

Sahabat, kita yang tinggal di kota besar mungkin tidak perlu berpikir dua kali saat hendak pergi ke sekolah. Kita bisa dengan mudah berjalan atau menaiki kendaraan untuk mencapai sekolah. Sungguh kenikmatan yang kerap kali kita lupa untuk syukuri. Sebab, di daerah pedalaman, banyak anak sekolah yang harus mempertaruhkan nyawa hanya demi menuntut ilmu. Mereka harus berjibaku dengan arus sungai yang deras dan melawan kemungkinan hanyut akibat tarikan air yang kuat. Tak ada jembatan, hanya kaki yang berpijak kuat-kuat di atas permukaan batu licin di dasar sungai. Atau perahu, jika memang ada.

Saudara-saudara kita di pedalaman, salah satunya pedalaman wilayah Sumatera, tidak punya kenikmatan berangkat sekolah dengan mudah. Perjuangan dan pengorbanan mereka demi menuntut ilmu kerap kali terlupakan dan tak terlihat. Semua ini karena tempat tinggal mereka yang begitu jauh dengan akses yang sulit.

Mereka seharusnya punya jembatan agar bisa melalui sungai dengan aman. Agar sampai di sekolah tanpa kurang suatu apapun. Agar tak perlu repot-repot membawa baju cadangan sebab pakaian mereka pasti kuyup setiap kali melintasi sungai. Tapi siapa yang mau membangun jembatan di pedalaman?

Namun, kami berhasil mewujudkan pembangunan jembatan di pedalaman untuk mereka. Melalui uluran tangan Sahabat sekalian, beberapa jembatan di pedalaman sudah dibangun. Jembatan-jembatan itu tak hanya memudahkan akses adik-adik yang hendak sekolah, namun juga orang tua mereka yang hendak mencari nafkah. 

Saat ini, setidaknya ada dua jembatan di pedalaman Sumatera yang sedang dalam proses pembangunan, yaitu di Desa Karang Pinggan dan Desa Batu Tulis. Membangun jembatan di pedalaman memiliki tantangan dan kendala tersendiri. Penasaran? Pada artikel ini, akan kami ceritakan sedikit ya, proses yang sedang berjalan. Simak ya, Sahabat!

Desa Batu Tulis

Kisah pertama datang dari Rompok Batu Tulis di Kelurahan Muara Kulam, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan. Di sini, sehari-hari ada sekitar 300 warga yang harus melawan derasnya sungai setiap hari, termasuk anak-anak yang berangkat sekolah. Biasanya, sebelum berangkat menyeberangi sungai selebar 50 meter, anak-anak akan berkumpul di pinggir sungai dan melaksanakan doa bersama memohon keselamatan. 

Seorang guru menceritakan, jika air sungai sedang deras-derasnya, maka sekolah terpaksa diliburkan. Langkah ini diambil untuk mencegah anak-anak hanyut saat berangkat sekolah.

Kami memulai proses membangun jembatan di pedalaman Sumatera ini pada 5 September 2022 lalu. Saat itu, yang kami lakukan pertama kali adalah membuat alat penyeberangan sementara menggunakan tambang dan rakit. Dengan alat penyeberangan sementara ini, anak-anak bisa menyeberangi sungai dengan lebih aman tanpa takut terhempas. 

Tahap selanjutnya adalah mengukur panjang jembatan dan mempersiapkan material seperti balok cor, papan tapakan, sling, dan besi. Material ini dipersiapkan secara bertahap dan diangkut menuju pedalaman Muara Kulam.

Kabar terbaru pada tanggal 7 Juli 2023, pembangunan jembatan telah memasuki tahap pembuatan balok seling. Para teknisi dijadwalkan datang kembali untuk melanjutkan pembangunan jembatan di pedalaman Sumatera tersebut.

Untuk mengetahui cerita lengkapnya, Sahabat bisa klik di sini,ya!

Desa Karang Pinggan

Jembatan lain yang sedang dalam proses pembangunan adalah yang berada di Desa Karang Pinggan, Desa Muara Kulam, Kecamatan Ulu Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara. Wilayah pedalaman Sumatera ini sudah lama sekali tidak memiliki jembatan, yaitu sejak tahun 1940. Sungai menjadi satu-satunya akses yang harus mereka lalui untuk pergi ke desa seberang dan ibu kota kecamatan. Mereka tak punya pilihan selain menerobos derasnya aliran sungai.

Para siswa yang bersekolah juga harus menerjang sungai tersebut jika ingin berangkat sekolah. Salah seorang guru sekolah bernama Pak Rudi bercerita pernah ada kasus murid yang hanyut dan tenggelam ketika menyeberang. Namun ketiadaan jembatan membuat mereka harus menerima kondisi yang ada dan tetap melalui sungai untuk ke sekolah.

Sahabat Pedalaman mengawali proses membangun jembatan di pedalaman Karang Pinggan pada 26 Juli 2022. Proses dimulai dengan survei dan pengukuran jarak sebelum membangun jembatan. 

Proses membangun jembatan di pedalaman ini tak hanya dilakukan dengan bantuan berupa uluran tangan dari Sahabat Baik, melainkan juga dari warga yang antusias terhadap pembangunan jembatan. Masyarakat bergotong royong membantu dengan mengangkut material dan terjun langsung dalam proses pembangunan.

Salah satu kendala yang dirasakan ketika membangun jembatan di pedalaman Desa Muara Kulam ini adalah material membangun jembatan yang perlu dibawa menggunakan perahu. Dari perahu, kemudian material diangkut menuju lokasi pembangunan jembatan. Proses ini mendapat bantuan pula dari warga.

Kabar terbaru pada 31 Juli 2023, proses membangun jembatan di pedalaman Sumatera ini sudah mencapai tahap membuat cor lubang deadmen, pembuatan dan pemasangan tapakan besi, papan tapakan, tiang-tiang penyangga, dan seling pegangan. Untuk kabar lebih lengkap, Sahabat bisa mengaksesnya di sini

Nah, Sahabat, demikian sedikit kisah soal proses dan kendala dalam membangun dua jembatan di pedalaman Sumatera. Mari kita sama-sama mendoakan agar pembangunan berjalan lancar dan jembatan bisa segera digunakan, terutama oleh anak-anak yang ingin menuntut ilmu. 

Jangan lupa untuk ikuti terus artikel menarik di blog Sahabat Pedalaman, ya! Sampai jumpa, Sahabat. 

Baca juga: Lika-Liku Masalah Pendidikan di Daerah 3T

Referensi: 
https://www.sahabatpedalaman.org/campaign/bangun-jembatan-di-desa-batu-tulis
https://sahabatpedalaman.org/campaign/bangun-jembatan-karang-pinggan-segera